Kamis, 27 September 2012

Kenangan


Juni, 2012, di suatu senja di musim kemarau, saya tiba di Yogyakarta. Lagi.Setelah 7 tahun meninggalkannya.
Saya tak pernah sadar seberapa banyak saya mencintai kota itu, karena saya seringkali menghabiskan akhir minggu di kota itu, meski hanya di seputaran Ambarukmo Plaza.
Kembali, di senja bulan Juni itu, saya memutuskan berjalan kaki mengelilingi setiap blok kampus lama saya di sekitar jalan Kaliurang. Melewati satu blok, memandangi flat dosen yang indah di kompleks Kedokteran Hewan (yang baru saya tahu ada di situ, sebelumnya saya selalu tahu ada di dekat UNY), saya menelpon Evi dan betapa saya tidak percaya bahwa saya ada di sana lagi. Saya ingin menangis malam ini. Mungkin sebenarnya saya sudah menangis sedikit. Hati saya penuh. Perlahan lahan kenangan-kenangan berlarian di sepanjang jalan itu. Saat itu saya berjalan di blok yang sepi di belakang perpustakaan.Saya ingat masa-masa sulit tesis saya, saat saya bekerja di Kopma, saat saya sering duduk menunggu adik saya, dan saya terus berjalan mencari Mie Pak Brewok. Kaki saya sakit, hati saya sedih, dan saya capek setelah berjam-jam tidak tidur dan duduk di travel; tapi saya berpikir bahwa Pak brewok adalah salah satu "signature" kota itu. Salah satu penanda keberadaan saya bersama orang-orang yang pernah saya sayangi. Evi, adik saya; Nova, Hani, guru-guru ngaji saya, teman-teman saya di Khadijah, Nina, Nurli, dan Condongsari 11.
Saya sungguh tertegun bahwa ada sebegitu banyak kenangan yang saya lupakan. Melewati gedung pusat, saya teringat Mba Dewi yang cantik yang mengantarkan saya di hari pertama inagurasi. Lalu juga hari di mana Ayah saya menunjukkan untuk pertama kali Gadjah Mada University, hutannya, dan indahnya Fakultas Teknik. Rasanya baru kemarin, saat saya menggenggam tangan ayah saya dan menyakinkannya bahwa saya akan bersekolah di sana di bulan kemarau berikutnya di tahun itu (2000). Kenyataannya, saya bisa bersekolah di kampus itu bukan di tahun ketika saya begitu yakin, Membutuhkan setahun penuh pelajaran hingga saya akhirnya tiba di hari inagurasi di tahun 2001. Melewati Gedung Pusat juga mengingatkan saya akan hari-hari penuh harapan bersama Evi dan Hermu, mengejar penghargaan (tentu kami mendapatkannya), mimpi-mimpi menjadi penulis yang hebat, menerbitkan buku kami, menjadi peneliti hebat, dan tanpa pernah berpikir bahwa kami tidak akan bisa selamanya berada di sana. Kenyataanya, Evi dan Hermu meninggalkan kota itu setelah saya, dan saya, meninggalkannya dengan paksa, dengan seketika. Suatu hari, tiba-tiba saya menemukan diri saya sudah berada di kota dingin yang lain, dengan barang-barang saya masih di Yogyakarta.
Kesalahan saya adalah bahwa saya tak pernah mengucapkan selamat tinggal pada Yogyakarta.Seperti yang saya katakan sebelumnya, tiba-tiba saya sudah menetap di Yogyakarta, dengan "teman-teman" baru. Dan ketika saya menyadari bahwa saya tak akan pernah kembali ke kota itu, saya ingat seberapa seringnya saya menangis.
Kembali ke Yogyakarta dan Pak Brewok, malam itu akhirnya saya menemukannya. Setelah berjalan dari Mirota Kampus hingga mendekati persimpangan jalan Kaliurang, saya hampir menjerit ketika melihat tulisan pak Brewok. Masih seperti dulu, mas yang memasak masih mas yang dulu. Tulisannya masih seperti dulu, begitu pun buku menu nya. Hanya tidak lagi di depan kampus Kehutanan, sekarang dia ada di dekat arboretum. Saya duduk. Mas nya memandangi saya lama. Mungkin dia ingat, meski hanya selintas. Dajn datanglah pesanan saya. Dan tidak seenak yang saya ingat. Tidak, bukannya saya kenyang saat itu. Saya sangat lapar. Setelah berjalan sebegitu jauh. Dan Mie goreng Pak Brewok yang saya impikan selama 7 tahun, terasa tidak enak. Yang saya pikirkan saat itu adalah bahwa di saat yang sama, di kota Dingin, Siwi dan Inayah pasti sedang makan di Pak Pawit. Mie goreng yang sangat enak.Atau capcay yang enak. Atau nasi goreng kesayangan Inayah.Atau semua makanan masakan mba Ju yang enak, di dapur yang gelap di rumah Penyihir.Dan saya tertawa.
Saat berjalan kembali ke  hotel saya malam itu, hati saya ringan. Saya menangis. Karena tahu seberapa dalam saya mencintai kota itu. Dan saya tahu kenapa Fatimah seringkali membuat status betapa dia merindukan kota itu.Di kota itulah saya pernah tumbuh menjadi dewasa, menjadi seseorang yang mandiri, mencintai hal-hal baru yang tidak diketahui orang tua saya, menangis, tertawa, mencintai, dan membenci. Tapi bagian yang paling menyakitkan adalah, saya tidak bis amengingat semua kenangan yang terjadi di jalan itu.Padahal hanya bagian yang terjadi di sepanjang jalan pendek itu.Saya sungguh sulit untuk mengingatnya. Orang-orang yang berjalan bersama saya di sana, hal yang saya lakukan di jalan itu, cuaca atau langit yang saya pandang setiap kali saya harus berjalan dari geografi ke kehutanan, atau dari fakultas teknik ke kehutanan.Mimpi-mimpi yang saya bagi bersama sahabat-sahabat saya, yang banyak di antaranya di halaman Gedung Pusat, di antara pilar-pilar indah yang saya kagumi.Demi masa lalu yang pernah saya sesali. Gerbang wisuda yang tak pernah saya lewati dan ditangisi Nina dan Ibu saya untuk saya karena saya tak sanggup untuk membicarakannya.
Dan ketika saya tiba di hotel, saya bertemu teman saya yang baru, yang tak pernah saya bayangkan akan saya temui dan menjadi sahabat saya saat itu juga. Lalu, 2 bulan berjalan dengan sebegitu membahagiakan. Saya memiliki 20 orang sahabat baru (well, 18, karena kami ber 20 dan saya tidak suka satu orang :D), dan hidup kami sebegitu ajaib. Saya memiliki "Hermu" baru, yaitu tim spasial saya:Maskur, Lutfi,Mas Doan, dan Pak Ngurah. Saya punya mba "Ii"baru. Saya menjadi lebih dekat dengan Lutfi. Saya punya Ical dan Riska. Saya punya teman-teman yang akan saya temui setiap kali saya di lobby, seperti bertahun-tahun lalu di Khadijah. Dan saya mendapatkan ilmu baru.Saya bahagia.
Ada malam-malam menyakitkan ketika saya harus memutuskan untuk membelokkan jalan hidup saya. Ada malam-malam berat mengerjakan tugas. Dan sekali lagi saya menemukan diri saya menjadi saya sepenuhnya. Setelah berbulan-bulan saya tertekan di rumah Penyihir, menjadi seseorang yang harus bertindak seperti yang diharapkan atas diri saya, saya mendapatkan diri saya kembali. Sebenarnya jauh sebelum itu, selama di Berlin, bersama sahabat yang sangat saya sayangi, saya telah sebegitu lama menjadi seseorang yang bukan diri saya.Lalu di dua bulan itu, saya menjadi seseorang yang saya sayangi.Seseorang yang saya hormati hidupnya. Seseorang yang saya sayangkan untuk tetap di berada di rumah Penyihir.
Dan di dua bulan yang bahagia itu saya mengambil keputusan untuk pergi mengambil kembali hati saya di kota yang jauh. Dan di antara hari-hari itu ada Sonja. Ada kemarahan Karima.Dan dengan mata yang tersambungd engan hati yang bahagia, saya melihat semua hal dengan berbeda. Saya tidak marah ketika Karima marah. Saya sedih karena persahabatan kami selalu begitu. Tapi saya tidak menyalahkan diri saya.Saya bertemu Sonja dan Ifah di jalan Sabang di hari wawancara visa saya, dan kami tidak kemana-mana selain terjebak kemacetan. Tapi kembali, saya tidak marah dan tidak sedih. Lalu ada Maskur yang mengantarkan saya ke terminal dengan segala kesabarannya. Ada kelompok hebat saya yang membuat saya sanggup membuat sebuah presentasi terbaik yang pernah saya buat. Tentu ada yang mengecewakan. Tapi saya sangat sedih ketika hari perpisahan tiba, membayangkan hidupsaya tanpa mereka.Karena saya sudah mengalami perpisahan yang menyakitkan dengan 18 orang yang lain sebelumnya.
Lalu, setelah keadaan yang sulit selama seminggu, saya berangkat ke Berlin, menjemput hati saya yang pernah saya tinggalkan.
Ya, saya juga tidak pernah mengucapkan selamat tinggal pada kota itu.Saya masih ingat hari ketika saya kehilangan visa saya,hari ketika Karima berhenti berbicara pada saya, hari ketika saya merasa sebegitu merana, dan hari ketika saya memutuskan bahwa semua sudah cukup dan saya membeli tiket saya, lalu terlalu sibuk untuk menangis dan memeluk Karima di hari saya pergi.Dan tak ada yang mengantarkan saya kecuali Karima,tentunya. Dan saya tak pernah beranjak dari hari itu. Saya masih mengingat sweater yang dipakainya di hari itu, kereta yang kami tumpangi, beratnya koper di tangan saya, panasnya matahari di akhir musim dingin, tumpulnya hati saya, dan perasaan saya yang menjadi apatis hingga tiba di Adi Sutjipto.Hati saya tertinggal di hari itu. Saya tak sanggup membawanya pulang, sebagaimana sebegitu banyak barang yang saya buang agar tak terlalu menyakitkan untuk diingat.
Jadi, saya belum bisa percaya bahwa saya akan pergi ke kota itu lagi, hingga di jam kepergian saya. Saya terlalu sakit hati untuk membayangkan bahwa di kota itu tidak akan ada lagi Karima. Bahwa di kota itu saya tak akan lagi punya tempat di Storkowerstrasse. Bahwa sahabat-sahabat saya juga tak akan ada di sana. Orang-orang yang saya sayangi, tak ada lagi di sana. Membayangkan jalan-jalan pernuh kenangan dengan Karima, KimSoo, Winne, Riska, Nurry, teman-teman ngaji saya, Lucy, Vera, oh, rasanya terlalu menyakitkan. Saya takut. Saya ketakutan untuk melihat kota itu sekali lagi.Dan saya tak bisa memberi tahu orang lain betawa pengecutnya saya.
Dan ketika melihat Berlin sekali lagi dari udara, saya kembali mati rasa.Numb. Saya memandanginya dengan asing. Benarkah saya pernah ada di sana?Benarkah saya pernah melihat pemandangan yang sama?Benarkah Berlin sehijau itu?Dengan rumah-rumah beratap merah?Benarkah Karima tidak akan ada lagi di sana?Padahal tujuan saya mendaftar pelatihan itu pertama kali hanyalah untuk bertemu Karima lagi.Tapi dia tak akan ada di sana.Dan bahkan dia tak mau berbicara lagi dengan saya.
Dan Nurry ada di sana. Saya tak percaya ada yang menjemput saya (T.T). Menyedihkan,ya?Saya jarang sekali dijemput di kedatangan saya :') Dan Nurry yang itu, berbeda dengan Nurry yang selalu saya kenal. Well, pertama tama saya tidak sadar. Di minggu ketiga Ramadhan saya dan Nurry menyeret koper saya yang besar dan menaiki TXL (bersama Nuke nya Winne dan sahabat2nya yang tidak akan saya ceritakan kali ini). Dan kami melompat keluar di Beusselstrasse!Kami makan di Kanun!!!Dan Kanun masih seperti di hari saya meninggalkannya. Dengan etalase kuningnya, dengan gambar ayam kartun di dindingnya, dengan kanopi yang menjulur ke teras Beusselstrasse. Dengan Al reeda di sebelahnya. Dengan menu-menunya. Dan dengan kenangan semua orang yang pernah saya paksa ke sana.
Saya dan Nurry, di jam pertama kedatangan kembali saya di Berlin, menghabiskan setengah ayam panggang, sepiring menu sayap ayam, dan jus aneh dari lemari pendingin. Dan itu di tengah-tengah bulan Ramadhan. Dan Nurry sangat malu. Tapi pelayannya, sebegitu baik dan tidak memandang kami dengan aneh.Dan saya tidak bertemu dengan pelayan favorit saya :(
Lalu kami pulang, ke rumah Nurry. Malam sudah turun. Dan saya bilang pada Nurry bahwa saya baru sadar bahwa dia berbau Berlin. Dan saya tertawa menerangkan pada Nurry bahwa setiap kota punya bau. Dan bau Berlin sangat khas.Baru harum sabun cuci dari jendela-jendela bawah tanah apartemen-apartemen, bau khas sampah kering di musim panas, sedikit bau bir Jerman yang menguar, dan berbagai warna lain, menyatu di malam musim panas yang diselipi angin dingin. Saya tahu detik itu juga, bahwa saya mencintai kota itu, lebih dari yang pernah saya tahu sebelumnya.
Berlin. di hari-hari berikutnya selama bulan Agustus yang panas, saya hidup kembali. Seperti tidak pernah meninggalkan Berlin, saya kembali berjalan di jalannya. Kali ini, saya tahu saya membawa berbagai perlengkapan yang benar. Saya membawa gaun-gaun yang manis, saya membawa sepatu-sepatu yang cantik, saya membawa kaca mata hitam yang sangat besar untuk menutupi muka saya, dan kulit saya bersinar setelah rajin membersihkannya setiap malam. Dan saya bukan pengangguran. Maka saya tidak mengalami lagi ketajutan ketidakpunyaan uang seperti dua tahun lalu saat menjadi mahasiswa.
Meski tak ada Karima.
Tentu saya hidup bagaikan orang gila di minggu pertama. Di setiap tikungan Alexanderplatz, ada Karima. ada kami yang tertawa bersama, ada kami yang memberi makan burung dara di hari Claus datang, ada kami yang bertengkar di setiap sudut, ada Karima yang tertawa bersama teman-temannya tanpa melihat saya berpapasan dengannya di depan Alexa, ada kami yang melompat di depan Alexa, ada Ana, Ana Laura, Paula, Kim Soo, dan Carola. Saya memilih berjalan kaki sejauh saya bisa saat saya pulang dari Humbolt. Untuk merasakan lebih banyak udara Berlin. Untuk menggali ingatan yang lama tertimbun dalam hati saya yang tertinggal.Dan pahitnya, tempat saya kursus terletak di dekat Charite, di mana saya pernah menangis ketika kami harus menjenguk teman kami yang akhirnya DO di musim dingin pertama saya. Dan dalam kenangan itu, ada kebaikan hati Karima yang tak akan pernah saya temui lagi. Dan saya melewati sudut itu setiap kali pulang. Dan saya menolak,sehingga saya selalu mengambil jalan memutar sesudah minggu pertama. Saya tak mau. Saya tak sanggup untuk mengingat hari-hari bersama sahabat saya.Yang tak akan kembali.
Awalnya sungguh berat.Kursus yang intensif, tekanan di rumah Nurry, cuaca yang berubah-ubah, ketidakpemilikan akan ruang pribadi, dan Ramadhan, serta teman-teman yang kebanyakan Eropa; saya kelelahan.Tapi perlahan-lahan saya tahu bahwa beberapa orang tidak sedingin kelihatannya.Saya suka Lena.Saya suka Matte.Saya suma Bessy.Saya suka gadis Italy dan Austria yang saya temui ketika saya tidur siang di setiap siang karena mengantuk di hari-hari terakhir Ramadhan. Dan Ramadhan kali itu adalah Ramadhan terindah saya. Hari yang panjang tak terasa.Rasanya hari terlalu cepat ebrlalu.
Saya sedih bahwa di setiap kali saya pulangd ari kursus, toko-toko sudah tutup, sehingga saya tak bisa membeli apapun. Ada hari kami melakukan kunjungan ke bagian lain kota dan saya terdampar sorenya di Rathaus Steglitsz.Rathaus Steglitz!!!!!!!!!!!!!!!!!!!Saya jadi ingat hari ketika saya pertyama kali mengunjungi Karima di wohnheimnya di sana. Malam awal musim dingin yang suram, bis yang tak bisa ditutup pintunya, Buah persik hitam yang manis di tas saya, sweater Vera Moda pertama saya, dan Karima yang saya lihat pertama kalinya dengan sweater hijaunya di seberang jalan. Hari itu pertama kalinya saya mengunjungi Globetotter, tempat Karima selalu bercerita di mana dia membeli kantung tidur untuk sahabatnya yang akan berkunjung di musim dingin itu. Dan setelah 4 tahun, itu adalah pertama kalinya saya memasukinya. Saya teringat adhek bungsu saya dan berdasarkan petunjuk-petunjuknya melalui sms, saya membelikannya sebuah lampu LED. Dan seorang pria berambut keriting yang indah berbaik hati memberikan saran atas lampu yang mana yang harus saya berikan untuk adhek saya itu.
Dan saya, setelah Globe Totter yang melelahkan, memutuskan mencari pojok schawerma yang pernah saya dan Karima cintai di hari-hari akhir kami di Berlin.Saya yakin bahwa tempatnya di dekat itu.Dan saya berjalan, berjalan dan berjalan hingga hari gelap, berpikir untuk berbuka puasa di sana jika saya menemukannya. Dan saya tak menemukannya hingga menjelang tengah malam. Saya duduk dan tertawa. Mengingat hari ketika saya dan Karima berjalan sepanjang jalan yang seingat saya sama. Saat itu, tiba-tiba Karima mengatakan ingin berbelanja di Rathaus Steglitz, dan kami berjalan jauh karena salah stasiun dan ketika tiba di Rathaus Steglitz, ternayata semua sudah tutup.Saya melewati jalan yang sama di hari itu, tapi tanpa Karima. Tapi saya masih merasakan dinginnya hari yang jauh, dan saya masih bisa tertawa menertawakan kekonyolan kami dan pembicaraan kami di hari itu.
Dan tentu saja, saya tak menemukan warung Schawarma itu. 
Yang mengherankan, selama sebulan di Berlin, saya tak berjalan di jalan-jalan yang sama yang pernah saya jelajahi ketika saya hidup di sana. Padahal saya sudah bertekad untuk menelusuri tempat-tempat kenanga. Tapi saya tak pernah sempat.Hanya sedikit sekali. Hanya jalan di Alexanderplatz, Mauerpark, dan Rathaus Steglitz itu. Bahkan Mauerpark, saya tidak berhasil ke pasarnya di hari Minggu.Ketika saya memaksakan diri berjalan ke sana di suatu hari kerja,bukan minggu, itupun karena saya salah naek tram dari Nortbahnhof.Dan saya melihat seorang pemuda bersandar di pintu tram. Saya bahagia karena di bagian kota itu orang-orang mengenakan jas dan berpakaian rapi (tak seperti bagian lain kota dimana saya tinggal dulu). Dan pemuda ini, mengenakan tas kulit yang indah, sehingga saya memandanginya. dan dia sedang menekuri sebuah buku kecil di tangannya sementara tangan yang lain bergantung di tiang tram. Dan buku kecil itu, seperti saya telah kira, Al Quran.
Subhanalloh, indahnya Ramadhan.
Dan ketika saya melompat keluar dari tram untuk mengunjungi Mauerpark, saya sudah bahagia mengingat pemuda dan Al Qurannya. Dan pertama kalinya saya memandang Mauerpark yang kosong. Orang-orang berbaring di bukit, seorang pemuda bermata coklat tersenyum pada saya letika kami berpapasan di balik pohon dan dia menemukan saya memandangi rumput-rumput ungu, tersembungi di bawah ilalang.
Saya baru sadar bahwa Berlin sangat ramah ketika saya hanya berkeliaran di sekitar Alexanderplatz dan Hessischestrasse.
Dan ketika tiba di rumah, tak ada seorang pun di rumah dan saya tak bisa masuk karena saya tak punya kuncinya :( Padahal malam itu sangat dingin dan saya sangat lelah. Saya bermain ayunan di halaman dan menangis. Merasa bahwa saya tak punya rumah.
Tapi di hari selanjutnya saya kembali bahagia. Tertangkap satpam di Ikea, bahkan saya sanggup berdebat dengan bahasa Jerman. dan saya menang.Saya memandang Berlin sebagai sebuah adegan lambat,di setiap pagi ketika saya menunggu bis di halte bus seberang apartemen Keibelstrasse atau di halte tramnya.Saya memandang setiap ornag,setiap warna, setiap pemandangan,dan saya menyimpannya rapat-rapat dalam ingatan saya.
Di suatu sore,di minggu keempat, saya berkesempatan berjalan hanya bersama Paula dan Carola, ke Schessischess Tor.Padahal di hari Minggu sebelumnya saya menjemput Daniel di sana sehingga saya malas menemani mereka.Tapi, ternyata kami tak berjalan dengan jalan yang biasa saya lalui sebelumnya, mereka menunjukkan taman bermain yang indah di dekat kanal di divided cafe, yang terletak tepat di perbatasan berlin barat dan timur di dekat Waschauerstrasse. Sebuah taman yang saya belum pernah tahu.Dan kami duduk di sana, mencakung dengan kaki kami tercelup di kanal.Saya lupa seberapa lama saya tak merasakan kebahagiaan seperti itu.Kebahagiaan tak bersyarat.Ketika langit terasa sebegitu dekat, dan seolah masa depan sebgitu mudah diraih.Saya lupa bahwa masa depan masih belum dituliskan sebelum kita memperjuangkannya.
Dan paula berkata:Apa yang ingin kita buktikan pada dunia? Bahwa Berlin memang indah, tapi kita harus tahu bahwa kita tak akan pernah bisa menetap di sini.Yang harus kita ingat adalah kenangannya, dan terus melanjutkan hidup.





Senin, 06 Desember 2010

The adventure begins in one step

Kata orang bijak, pertemuan dengan seseorang akan merubah hidup kita; meski hanya sebuah pertemuan singkat.
Benar sekali.
Karena di dunia ini tak pernah ada ketidaksengajaan.
Dalam sekian micro nano atom kemungkinan, semua sudah tertulis dan terhitung.
Tidaklah sehelai daun akan jatuh kecuali sudah merupakan takdir Alloh.